Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Pilihan. Tampilkan semua postingan

Taman Surga

Di balik sebuah jalan kehidupan yang terkadang kelam dan terang, kini aku berada di tepian jurang tanpa dasar yang ku sebut dengan sebuah jalan pilihan. Sebuah jalan pilihan dalam hidup yang aku sendiri pun tak tahu akan di mana jalan yang penuh dengan jurang di sisi kanan dan kirinya ini bermuara.

Di ruang ini aku terperangkap, terkekang dan terkurung. Di sebuah ruang yang hanya berukuran sekitar 3 x 4 meter inilah aku habiskan hari-hariku tanpa ku tahu sampai kapan aku akan berada di sini. Hanya sinar mentari yang masuk dari sela-sela ventilasi yang menjadi temanku kala pagi menjelang dan hanya cahaya dari sebuah lampu yang menjadi temanku di kala malam tiba. Dan hanya sehelai kain tipis yang ku kenal sebagai selimut inilah yang menjadi penghangat tubuhku di kala udara dingin menghampiri bersamaan dengan jatuhnya hujan yang diiringi oleh suara petir dan kilatan cahaya yang menakutkan.

Di kala pagi menjelang, aku selalu takut dengan sesosok makhluk yang selalu menghampiriku. Apa dia malaikat maut? Ku rasa tidak, karena ku percaya jika malaikat maut tak berpakaian serba putih. Lalu, apa dia setan? Sepertinya juga bukan, karena ku percaya jika setan tak menginjak tanah. Tubuhnya memang terlihat tegap, potongan rambutnya cepak seperti tentara, dan dia berpakaian serba putih layaknya para ulama. Mereka selalu menjemputku. Ya, mereka. Dua sosok makhluk dengan gaya dan penampilan yang sama persis selalu menyeretku keluar dari ruangan yang meyiksa batinku ini. Memang, mereka mengeluarkanku dari ruangan yang membuatku terbelenggu, dan untuk itu aku berterimakasih. Tapi, kebebasan yang sedang ku rasakan ini hanya sebentar karena mereka terus menarik dan mendorongku tanpa menghiraukan sedikit pun rontaan dan teriakanku yang bisa menggetarkan gendang telingaku sendiri. Suara memekik yang sanggup menarik urat leherku ini hingga aku merasakan sakit tak digubris sedikit pun.

Dengan tenaga yang lebih besar, mereka terus saja memaksaku melewati sebuah lorong dengan pintu-pintu yang tertutup rapat di tiap sisinya hingga aku tiba pada sebuah ruangan. Sebuah ruangan yang sebenarnya jauh lebih luas dan lebar jika dibandingkan dengan ruangan yang baru saja aku tinggalkan. Namun ruangan ini begitu basah, dingin dan menyeramkan bagiku. Kemudian aku dibawa masuk ke dalam. Mereka mulai menarikku dan membuka paksa seluruh pakaian dari tubuhku hingga tak ada sehelai benangpun yang menutupi kulit coklatku ini. Yang tersisa hanyalah celana dalam yang menutupi kemalu*nku.
Aku terduduk di atas lantai yang terasa begitu basah dan lembap. Inilah saat-saat di mana aku merasa layaknya seorang tawanan perang. Air yang begitu dingin dan mampu menusuk kulit itu langsung diguyur ke seluruh tubuhku terus menerus. Air itu terasa begitu menusuk kulitku hingga pembuluh darahku pun terasa begitu beku. Jeritanku setiap kali air itu menyentuh kulitku tak mereka hiraukan sedikit pun. Entah kenapa air seperti momok dalam hidupku semenjak aku dimasukan ke dalam lingkungan seperti ini. Lingkungan dengan orang-orang yang selalu menjerit sepertiku. Lingkungan yang dipenuhi dengan orang-orang yang tak lagi bergairah untuk hidup. Sebuah lingkungan yang dikenal dengan sebutan “Panti Rehabilitasi”.

Ya, aku adalah mantan seorang pecandu yang baru saja masuk ke lingkungan ini sejak tiga hari yang lalu. Namaku David dan aku berumur 21 tahun. Di sini rasanya begitu menyiksa. Aku seperti berada di neraka, walaupun aku sendiri belum tahu bagaimana bentuk neraka Tuhan yang sebenarnya. Rasanya jika aku bisa memilih, maka aku akan memilih berada di balik jeruji besi daripada aku harus berada di sini. Rasanya di sana tergambar lebih nikmat jika dibandingkan di sini. Aku berbicara seperti ini karena memang sebelumnya aku pernah terkurung di balik jeruji besi. Di sana aku masih bisa bebas mengkonsumsi obat-obatan terlarang yang membuatku seperti ini sekarang, seorang pecandu. Aku pun tak pernah merasakan berada di balik jeruji besi itu lebih dari tiga hari. Aku selalu bebas saat ayahku datang dan memberikan setumpuk kertas yang bergambarkan Pak Presiden dan wakil Presiden pertama Indonesia dengan jumlah yang tak sedikit kepada petugas yang memenjarakanku. Berbeda dengan kondisiku saat ini yang terperangkap di dalam panti rehabilitasi. Aku tak pernah bisa lagi mencicipi obat-obat terlarang itu lagi hingga tubuhku menjadi lemas tak berdaya seperti ini. Jantungku terasa begitu cepat memompa darah yang mengalir ke seluruh tubuhku. Rasanya pembuluh darahku juga begitu beku. Rasanya begitu dingin di dalam tubuh ini hingga membuat tubuhku menggigil dan membuat darah yang mengalir di tubuhku seperti sedang bergejolak. Membuat seluruh tubuhku bergetar dan menggigil dengan sendirinya. Inilah yang membuat tubuhku bahkan tak kuat menerima air yang masuk ke tubuhku melalui pori-pori yang ada di kulitku.

Obat-obatan terlarang itu kini telah merusak tubuhku dan juga hidupku. Rasanya lebih baik aku mati daripada aku harus tersiksa seperti ini. Obat-obatan terlarang atau yang biasa disebut nark*ba ini memang telah memberikan kenikmatan duniawi di dalam hidupku. Tapi itu hanya sebentar, karena kenyataannya aku harus hidup dengan itu. Semenjak aku terjebak di dalamnya, nark*ba layaknya oksigen yang harus ku hirup. Tanpanya tubuh ini akan terasa lemas dan mungkin akan mati. Ya, nark*ba itu telah membuatku berada di tepian jurang tanpa dasar. Sebuah jalan kehidupan yang aku pilih sendiri, dan kini aku menyesalinya. Andai aku dapat memutar waktu, aku pasti tak akan menyentuh benda haram itu sedikit pun dalam kehidupanku. Tapi apalah dayaku saat ini? Aku hanya bisa menyesali semuanya dan tak bisa lagi memutar waktu. Semua orang-orang terbaik yang pernah ada di sisiku perlahan pergi menjauh dari hidupku semenjak aku diketahui sebagai seorang pecandu. Bahkan teman-temanku yang membawaku ke dunia yang kelam ini pun tak pernah terlihat lagi. Kecuali keluargaku.

Mereka selalu berada di sisiku dan selalu memberikan semangat untukku. Bahkan orangtuaku tak menghiraukan cacian dan hujatan orang-orang yang menghardikku. Yang mereka hiraukan saat ini hanyalah aku. Ya, aku! Anak yang masih mereka sayangi. Pernah aku berada di posisi paling bawah pada roda kehidupan ini. Aku terpuruk dan tak lagi ingin hidup karena aku merasa tak kuat lagi untuk berhenti dari barang haram itu. Aku mencoba mengakhiri hidupku sendiri, tapi tak berhasil. Entah karena Tuhan masih sayang padaku atau aku memang masih terlalu kotor untuk menghadapnya. Setelah itulah aku langsung dilarikan ke panti rehabilitasi ini. Dan saat aku terpuruk ibuku pernah berkata padaku, “Sayang, jangan menyerah. Jangan pernah menyerah. Karena Mama dan Papa akan selalu berada di dekat kamu. Bahkan ketika kamu berada di tepian neraka sekalipun, Mama dan Papa akan selalu berada di dekatmu nak.” Itulah kata-kata dari ibuku yang selalu membuatku merasa beruntung terlahir ke dunia ini sebagai anaknya. Rasanya aku benar-benar menjadi orang yang paling bersalah di dunia ini karena telah mengecewakan orangtuaku yang benar-benar tulus menyayangiku tanpa mengharapkan sebuah imbalan sekalipun.

Semenjak itulah aku membuat perjanjian pada diriku dan kepada Tuhan jika aku tak akan menyerah untuk melepaskan diri dari jeratan barang haram itu. Memang aku pernah melupakan Tuhan di setiap langkah yang aku ambil dalam kehidupanku. Tapi pernah juga aku ingin mendekatkan diri padaNya namun di sisi lain aku tak ingin lepas dari jalan kebatilan yang menjanjikan surga dunia saat itu. Ya, surga dunia memang sangatlah menggoda jika dibandingkan dengan surga akhirat yang hanya kita ketahui dari sebuah kitab. Mungkin karena itulah aku mudah terhanyut dalam angan-angan keindahan surga duniawi yang sifatnya hanya sementara ini.

Kini aku tak lagi berada di tepian jurang yang tak berdasar. Kini aku sudah berada di sebuah taman dengan bunga-bunga yang bermekaran dan sungai-sungai jernih yang mengalir di bawahnya. Kupu-kupu banyak yang menari-nari di sekitarku mengiringi sebuah nyanyian dari burung camar. Tuhan pun telah memberikanku pendamping yang begitu cantik menemaniku di taman surga ini. Tapi kali ini orangtuaku tak berada di dekatku. Mereka berada jauh di sana. Bukan, bukan karena mereka ingkar dengan janji mereka, tapi karena aku yang tak mengijinkan mereka untuk menyusulku. Belum saatnya, karena mereka masih harus melanjutkan hidup mereka di dunia. Mungkin inilah tanda dari Tuhan jika dia sudah tak lagi menganggapku terlalu kotor untuk menghadapnya. Dan ini juga sebagai tanda dari Tuhan jika Dia benar-benar sayang kepadaku, hambanya yang pernah berbuat dosa. Sebuah tobat memang tak pernah dianggap terlambat oleh Tuhan, karena itulah Tuhan mau menaruhku di taman surga ini ditemani dengan semua keindahan yang pernah Dia janjikan.
-sekian-
Cerpen Karangan: Rahardian Shandy
Blog: komedi-romantis.blogspot.com
Facebook: Rahardian Shandy
Twitter: @shandyrahardian


Labels : news investment systems Anti Vir free template car body design

ANAK SHOLEH DAN LEMBUNYA

Al-Baghawi menceritakan kepada peserta pengajiannya, di kalangan Bani Israil ada seorang lelaki yang saleh, Ia punya seroang anak kecil dan seekor anak lembu. Menjelang hari kematiannya, lelaki itu melepaskan anak lembu tersebut di suatu hutan seraya berdoa. "Wahai Tuhanku, aku menitipkan anak lembu ini untuk anakku sampai ia besar"

Doa lelaki ini dikabulkan oleh Allah SWT. Setelah ia meninggal dunia, anak lembu itu tidak pernah keluar hutan dan selalu menyembunyikan diri agar tidak terlihat orang lain. Setelah anak itu dewasa, ia membaktikan diri pada ibunya. Ia berkerja mencari kayu bayar untuk kemudian dijual di pasar. Hasil jerih-payahnya itu dibagi tiga, satu bagian untuk sedekah, satu bagian untuk makan, dan yang terakhir untuk ibunya. Ia pun membagi waktu malamnya menjadi tiga, sepertiga malan untuk beribadah, sepertiga lagi untuk tidur, dan sepertiga lagi untuk menunggui ibunya.

Suatu hari ibunya mengatakan, "Sesungguhnya ayahmu meninggalkan anak lembu untukmu yang dilepaskan di suatu hutan. Carilah lembu itu sambil berdoa kepada Tuhannya Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya''qub supaya Dia mengembalikan anak lembu itu kepadamu.

Pergilah anak muda itu ke hutan, dan menemukan lembu yang dimaksud. Lalu ia berkata, "Demi TUhan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya''qub, tenanglah engkau di situ."

Lembu yang menghampiri anak muda itu dan berkata, "Hai anak muda yang bakti pada ibunya," tegur lembu tersebut. "Naikilah aku supaya ringan bagimu." Anak berkata, "Sesungguhnya ibuku tidak memerintahkan aku menaikimu, tetapi membawamu pulang."

"Demi tuhannya Bani Israil," sumpah lembu tersebut, "Jika engkau menaikiku (berarti tidak mematuhi perintah ibunya), sesungguhnya engkau tidak akan dapat menguasaiku selamanya. Maka berjalanlah engkau, karena sesungguhnya andaikan engkau memerintahkan sebuah gunung berjalan sendiri untuk engkau naiki, niscaya gunung itu akan menurut semata-mata baktimu kepada ibumu."

Sesampai di rumah, ibunya berkata, "Anakku engkau adalah orang fakir. Tidak punya harta, berpaya-payah mencari kayu bakar. Untuk itu juallah lembu ini." Ibunya menyuruh anak itu menjual lembu itu ke pasar dengan harga tiga dinar.

Maka pergilah anak itu ke pasar. Lalu Allah mengutus seorang malaikat untuk memperlihatkan kekuasan-Nya dan memberitahukan bakti anak muda itu terhadap ibunya kepada makhluknya.

"Berapa dinar engkau jual lembu ini", tanya malaikat itu.
"Tiga dinar, dan aku mengadakan perjanjian kepadamu dengan keridhaan ibuku, "Jawab anak muda itu.
"ambillah enam dinar ini, dan usahlah engkau meminta persetujuan ibumu", bujuk malaikat itu.
"Bahkan andai engkau memberiku emas seberat lembu ini, takkan kuterima kecuali dengan keridhaan ibuku".

Anak muda itu pulang kerumah, dan menyampaikan bahwa lembu mereka ditawar enam dinar.

"Kembalilah engkau ke pasar, dan juallah lembu itu dengan enam dinar atas keridhaanku," perintah ibunya.

Anak muda itu pun kembali ke pasar.

"Sudahkah engkau minta persetujuan ibumu?" Tanya malaikat yang tadi.
"Ibuku memerintahkan aku agar menjual lembu ini tidak kuran gdari enam dinar", kata si pemuda.
"Aku akan memberimu 12 dinar, tak usahlah kamu meminta persetujuan ibumu," bujuk malaikat itu lagi.

Pemuda itu kembali lagi kepada ibunya dan memberitahukan mengenai tawaran ini. Sang ibu berkata, "Sesungguhnya orang yagn datang kepadamu itu adalah malaikat. Ia menjelma dalam bentuk manusia untuk mengujimu. Untuk itu jika ia kembali kepadamu, tanyakanlah: apakah engkau mengizinkan aku menjual lembu ini atau tidak?"

Pemuda itu melaksanakan segal perintah ibunya. Akhirnya malaikat tersebut mengatakan, "Pulanglah engkau dan katakanlah pada ibumu agar merawat lembu ini baik-baik. Kelak Musa bin ''Imran akan membeli lembu darimu, karena ada seseorang yang amti terbunuh dari kaum Bani IUntuk itu jangan engkau jual, kecuali dengan uang dinar seberat lembumu itu."

Pemuda itu pulang dan merawat lembunya baik-baik. Tak lama kemudian Allah SWT mentakdirkan Bani Israil supaya menyembelih seekor lembu*. Lalu mereka berkali-kali meminta supaya Nabi Musa a.s. menerangkan sifat-sifat lembu yang akan disembelihnya. Sehingga akhirnya lembu anak muda itulah yang memenuhi syarat. Dan itu semua terjadi semata-mata karena amal bakti anak muda itu kepada ibunya.

*Lembu yagn dimaksudkan sebagai perantara untuk mencari siapa pelaku pembunuhan di kalangan kaum Bani Israil. Kisah ini diterangkan dalam Al Quran surah Al-Baqarah ayat 67-73.

Cerita ini disarikan dari bagian buku : Ridho Allah tergantung Ridho Orang Tua. Syamsul Rijal Hamid. Penerbit Cahaya Salam.

Sumber:  http://id.shvoong.com/humanities/1647540-anak-sholeh-dan-lembunya/

Labels : news investment systems Anti Vir free template car body design

SAYAP MALAIKAT RHAYA

Oleh : Ria Jumriati
  Awal tahun baru ini, telah disambut oleh rintik air hujan dan taburan mega dicakrawala pekat. Namun Rhaya melihat bidadari tengah meronce buliran air hujan dan merangkainya menjadi juntaian permata berwarna pelangi. Rhaya tersenyum, ia melihat mata Tuhan tersenyum padanya. Ia melihat wajah malaikat bersinar menyilaukan mata beningnya. Rhaya pun tersenyum. Ia melihat burung burung surga terbang mengiringi pesawat yang ditumpanginya. Dan ia melihat senyum bidadari itu di salah satu pramugari yang tadi menggendongnya sejenak. Rhaya belum mengerti bahasa manusia. Dipunggungnya masih melekat lembutnya sayap malaikat. Satu satunya manusia yang bisa mengerti segala keinginannya, hanyalah Ibunya. Ia adalah perempuan, dimana Rhaya bisa melihat keindahan surga lewat nyanyian nina boboknya.
“Mau bobok sayangku….” Mata surga itu menatap wajah bening Rhaya dengan lembut. Satu helai sayapnya meliuk jatuh perlahan ke bumi. Rhaya tertidur dalam nyanyian berkidung kedamaian. Disana, seperti biasa Rhaya bermain bersama para malaikat kecil penghuni kerajaan Illahi. Hanya terdengar tawa dan canda kebahagiaan. Namun tak lama ia pun terbangun. Guncangan demi guncangan membuat perjalanan dalam pesawat itu kerap membuatnya kehilangan teman teman kecilnya. Mereka terbang saat mata Rhaya terbuka menyibak jendela dunia. Namun dalam perjalanan kali ini, Rhaya diiringi puluhan burung burung surgawi dan…..bidadari itu, terus saja merajut dan meronce buliran hujan menjadi rangkaian permata terindah yang pernah dilihatnya. Rhaya ingin meraihnya sehelai. Ia ingin mengalungkannya di leher perempuan pemilik ruang penuh kehangatan, dimana ia pernah bersemayam selama 9 bulan disana.
“Kamu pipis lagi ya…” Ujarnya dengan senyum lembut.
“Mama, aku ingin membawamu melihat surga”  Ujar Rhaya. Tapi bahasa Rhaya tak pernah bisa dimengerti secara harpiah olehnya. Yang terdengar hanya celotehan lucu yang membuatnya semakin gemas. Ia pun menciumi pipi gembil Rhaya.
“Makan dulu ya sayang, sebentar lagi kita akan ketemu Oma dan Opa”
Ia pun menyuapi mulut kecil itu dengan sepotong biscuit yang dicampur susu. Seorang pramugari lewat di sampingnya. Rhaya kembali melihat senyum bidadari itu di matanya.
            “Hallo sayang…sudah bangun ya ?” Sapanya ramah. Rhaya tersenyum girang. Ia pun mencubit pelan pipi gembilnya.
            “Ada banyak malaikat menunggu senyum manis mu disana”
            “Aih..lucu sekali” Ujarnya saat mendengar celoteh Rhaya “Berapa usianya, Bu ?”  Tanyanya sambil membelai rambut keritingnya.
            “Bulan depan genap setahun” Terang Ibunya. Pramugari cantik itu pun mengangguk sambil berlalu dan menebar senyum ramahnya kepada penumpang lain.  
           
            Detik dan menit saling berkejaran menuju dentang takdir. Cuaca semakin tak bersahabat. Ada kegelisahan yang sama dirasakan para penumpang dipesawat itu. Semantara Rhaya kembali tertidur dan menemui teman teman kecilnya yang semakin riang menyambutnya di ujung gerbang penuh sinar. Ia merasakan sayap sayapnya perlahan berguguran. Melayang diudara…kadang hinggap di batang cemara, hingga jatuh menyentuh bumi. Rhaya menggeliat membuka mata kecilnya. Mengapa didalam pesawat ini begitu banyak malaikat berbaju putih. Masing masing menghantar sinar tersendiri ditangan mereka. Semua menebar senyum pada mata Rhaya.
            “Mari Nak…..” Salah satu malaikat itu meraih jemari mungilnya. Ia seolah menari diatas gemerlap cahayanya. Rhaya merasakan kedamaian yang luar biasa, kehangatan yang sama dirasakannya saat ia bersemayam dialam rahim.
            “Mama…” Rhaya menatap mata Ibunya yang terlihat gelisah. Kali ini ia sama sekali tak menggubris celoteh lucunya. Ia terus saja mendekap tubuh Rhaya erat.
            “Mama, aku baru saja diberi rajutan permata ini oleh Bidadari itu”
            “Apa ? Pesawat ini akan jatuh !” Jeritnya dengan tangis ketakutan.
            “Tenang Bu, kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa apa ?” Ujar salah satu awak mencoba menenangkan.
            “Tapi ?! Goncangannya semakin keras…tolooooong” Jerit perempuan tua di kursi belakang. Ia terus saja menangis ketakutan dipundak suaminya. Para penumpang serempak menampakkan wajah ketakutan. Menangis, berpelukan dan berlarian kesana kemari. Begitu juga para pramugari dan awak pesawat sibuk menenangkan semua kepanikan yang ada. Namun tak urung wajah mereka pun diliputi kecemasan yang sama. Sementara badan pesawat semakin terasa menukik kebawah. Kegaduhan kian terasa, semua berteriak dan menangis. Tapi dimata Rhaya…Ia hanya melihat para malaikat yang jumlahnya kian bertambah. Menebar kristal kristal cahaya pada setiap orang  yang ada didalam pesawat itu. Salah satu malaikat itu menghampirinya. Tersenyum dan mengajaknya terbang bersama anak anak kecil lainnya. Suasana dimata Rhaya sangatlah indah. Lalu para burung dan bidadari itu yang sedari tadi mengawal perjalanan mereka. Kian menebar senyum kebahagiaan. Rintik hujan telah berhenti dan berganti pelangi, Rhaya bergelayut riang di juntai warna pelangi itu bersama teman teman kecilnya. Penuh celoteh riang. Suara dentuman pun terdengar. Ada kilat api dan asap hitam yang disusul dengan hamburan serpihan badan pesawat. Rhaya melihat roh Ibunya melayang terbang menuju kearahnya, disertai beberapa malaikat dengan sinar yang terus mengawal perjalanannya.
            Awan membelah sempurna menampakkan pemandangan indah dan bersimbah kedamaian. Rhaya memetik salah satu bintang yang biasa ia lihat di alam mimpinya. Bersama teman teman kecilnya, ia kini menjadi penghuni salah satu tempat ternyaman di kerajaan Illahi. Rhaya dan bersama roh roh lainnya kini tertawa bahagia tanpa sedikit pun rasa sakit apalagi derita menyerta. 
            Nun jauh dihamparan bumi di kedalaman lautan luas. Berhamburan serpihan pesawat dan tubuh manusia. Namun itu hanyalah ragawi bagi semua penghuni alam Illahi. Hanya sebagai bukti keberadaan mereka yang pernah menjejaki bumi. Memang ada airmata, jerit kesakitan dan darah yang berhambur deras. Dan sekali lagi, itu hanyalah kodrati dari takdir rasa yang harus dijalani sebagai manusia. Namun, satu yang perlu diyakini meski melintasi batas kewajaran yang berlaku sama di bumi. Mereka…telah dikawal oleh ribuan malaikat dan bidadari tanpa rasa sakit dan derita yang memilukan. Mereka tak sekedar menjalani takdir apalagi harus membayar karma sebagai mahluk berlumur dosa. Ada banyak cara milik Tuhan untuk mengajak setiap mahluknya membuka pintu pintu surga meski harus melewati serangkaian bencana. Dan cara apapun, dimata dan bagaimana Dia bekerja tentu harus diyakini tanpa derita menyimbahi. Karena Dia Maha Pengasih dan Penyayang.
            Hingga pada suatu hari….seorang anak kecil berlarian ditepi pantai. Ia pun masih memiliki sayap malaikat itu. Dengan riang ia berlari mengejar anak anak ombak yang bergantian menjilati kaki mungilnya. Di dekatnya berdiri Ibunya yang terus mengawal langkahnya. Tiba tiba, mata kecil itu menangkap sehelai sayap malaikat yang sama dimilikinya. Ia pun memungutnya dan tersenyum…..ada pesan melambai pada helainya. Ia membacanya dengan tersenyum.  Pesan itu berbunyi :
           
“Aku bernama Rhaya…bersama teman teman kecilku
Kini aku bersemayam dalam damai  pelukan Ibu dan Tuhanku
Terbangkan pesan ini untuk Oma dan Opa ku…
Keringkan lah air mata dan bernyanyilah lagu riang untukku
Karena aku....
Selalu berbahagia dalam damai dan kasih Tuhanku”
           
TAMAT
“Bagi semua bayi dan balita di pesawat No. Kl 574, setahun lalu….”
http://riajumriati.multiply.com/journal/item/22/Cerpen_Sayap_Malaikat_Rhaya

Labels : news investment systems Anti Vir free template car body design